Tradisi Upacara Ngaben di Bali – Unik dan Wajib di Laksanakan.

By | April 3, 2020

Salah satu tradisi unik dan wajib untuk dilaksanakan bagi pemeluk agama hindu yaitu tradisi upacara Ngaben di Bali. Kegiatan keagamaan yang dilakukan turun temurun sejak dulu kala. Tradisi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang liburan ke Bali.

tradisi upacara ngaben di Bali

Tujuan dan Makna Tradisi Upacara Ngaben di Bali

Dalam ajaran agama hindu, tubuh manusia terbentuk dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Butha, kelima unsur tersebut terdiri dari:

  1. Akasa atau rongga (Hampa); tanpa adanya rongga segala benda padat/organ tubuh tidak akan bisa diposisikan dan tidak akan ada aliran apapun apabila seandainya sebuah tubuh dipenuhi benda padat.
  2. Pertiwi atau organ padat (Tanah); merupakan benda padat/organ-organ tubuh yang digunakan untuk proses pencernaan serta pemerosesan lainnya. Organ tubuh tersebut antara lain hati, paru-paru, jantung, usus, tulang, kulit dan organ padat lainnya.
  3. Bayu (Udara); di dalam rongga sudah pasti ada udara, disamping itu udara juga dibutuhkan untuk proses pernafasan dan pembakaran sehingga menjadi energi.
  4. Apah atau darah (air); darah yang mengalir melalui pembuluh akan membantu mengalirkan sari-sari makanan sehingga energi.
  5. Teja atau panas (Api); dari hasil pemrosesan akan mengasilkan panas dan akan menghasilkan suhu yang tetap. Suhu ruangan yang tidak bagus akan berpengaruh pada kondisi tubuh misalnya kalau terlalu dingin akan membuat kita mengalami hypotermia atau kalau terlalu panas akan mengakibatkan dehidrasi.

Dengan dilakukan upacara pembakaran mayat, kelima unsur tersebut akan kembali ke asalnya. Disisi lain secara keyakinan agama hindu tujuan dari pada tradisi upacara ngaben di Bali, supaya sang atman (roh) bisa segera menyatu dengan Brahman (sang pencipta). Sehingga dipercaya bisa segera reincarnasi atau terlahir kembali, tergantung karma baik/buruk yang dilakukan di masa hidupnya.

|| Baca juga: Tradisi dan nama orang Bali

Jenis-jenis Pelaksanaan Upacara Ngaben di Bali

Jika kita masuk lebih jauh lagi untuk memahami kegiatan tradisi unik ini, di dalam pelaksanaannya upacara Ngaben di bagi menjadi  2 bagian yaitu:

1. Ngaben langsung
Ini artinya upacara dilakukan langsung ketika ada orang meninggal. Sambil menunggu selesainya persiapan sesajen atau upakara, jenasah akan di semayamkan dirumah duka tentunya dengan diawetkan dahulu menggunakan suntik formalin ataupun dengan dibekukan. Biasanya proses persiapan membutuhkan waktu 1 – 2 minggu, tergantung besar kecilnya kegiatan upacara yang akan dilakukan.

Disinilah kita juga akan dapat melihat tradisi gotong royong masyarakat Bali, Masyarakat dalam satu desa adat, akan datang untuk membantu secara sukarela, mulai dari persiapan upacara Ngaben ini sampai selesai.

2. Ngaben Masal (ngaben bersama dengan banyak jenasah)
Sebelum dijelaskan lebih lanjut, perlu untuk diketahui bahwa, tradisi upacara Ngaben di Bali membutuhkan biaya yang tidak sedikit bahkan sampai puluhan juta rupiah, karena banyak sekali perlengkapan atau sesajen yang dibutuhkan, disamping juga biaya konsumsi untuk mereka yang ikut membantu pelaksanaannya.

Oleh karena itu, di masing-masing desa adat di Bali membuat peraturan untuk melakukan kegiatan upacara ngaben setiap 5 tahun sekali. Jadi tidak semua orang Bali yang meninggal langsung di Bakar, banyak juga yang dikubur terlebih dahulu. Dalam jangka 5 tahun, biasanya sudah ada beberapa orang yang sudah meninggal dalam satu desa. Ketika Tradisi upacara Ngaben massal dilakukan, jenasah yang sudah dikubur akan digali dan diambil kembali bagian tubuh yang masih tersisa, untuk dilakukan upacara ngaben secara bersama-sama.

Tentu biaya yang dikeluarkan untuk sesajen dan kebutuhan lainnya akan ditanggung bersama-sama, sehingga akan jauh lebih hemat dan murah.

Tata Cara dan Proses kegiatan.

Walaupun dalam kenyataan prosesinya, masih banyak sekali rangkaian dari tradisi upacara ngaben di Bali ini, yang sulit untuk dijelaskan. Namun disini kami akan mencoba merangkum untuk pemahaman yang lebih mudah.
Dan berikut proses kegiatan upacara Ngaben di Bali:

  • Ngulapin, Ngulapin maknanya untuk memanggil Sang Atma/roh orang yang meninggal, atau “menyampaikan” bahwa akan segera dilakukan upacara pengabenan.
  • Nyiramin atau Ngemandusin, Upacara memandikan atau membersihkan jenazah, yang dilakukan dirumah keluarga. Pada prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol semacam bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali manfaat-manfaat dari tahap tubuh yang tak dipakai ke asalnya, dan apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali supaya dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).
  • Ngajum Kajang, Kajang adalah sebuah simbol yang dibuat dari selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku/pendeta di desa setempat. Sebagai simbol keiklasan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para keluarga dan kerabat, sehingga almarhum bisa meneruskan perjalanan ke alam baka dengan tenang.
  • Ngaskara, penyucian roh yang bertujuan agar almarhum bisa bersatu dengan Tuhan dan menjalankan karma baik/buruk yang dilakukan semasa hidupnya.
  • Memeras, Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang telah mempunyai cucu, karena dipercaya cucu akan menuntun jalan almarhum ke “alamnya”, melalui doa.
  • Papegatan, Papegatan artinya pegat atau putus. Ini tujuannya untuk memutus hubungan bathin sang almarhum dengan keluarga/kerabat, supaya “kepergiannya” tidak terbebani lagi dengan urusan duniawi.
  • Pakiriman Ngutang, ini adalah upacara keberangkatan jenasah menuju kuburan. Jenasah akan dinaikan ke tempat yang disebut dengan Wadah/bade, yang bentuknya menyerupai pagoda. Disamping itu juga diikuti dengan Lembu; patung terbuat dari kayu yang menyerupai lembu dipakai sebagai tempat dibakarnya jenasah setelah tiba di kuburan. Disinilah prosesi yang mungkin sering kita jumpai di jalan. Dan disetiap persimpangan Bade tersebut akan diarak berputar sebanyak 3 x.
  • Ngeseng, Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, seusai berakhir kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.
  • Nganyud, Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang tetap tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, alias sungai.
  • Ngedetin, Rangkaian acar selanjutnya adalah ngedetin yang bisa juga diartikan “tarik”, ini dilakukan di laut/sungai tempat abu jenasah di buang. Tujuannya adalah menarik roh/atma dan akan di tempatkan secara simbolis pada “daksina” (sesajen hindu). Dan dibawa pulang kembali untuk prosesi selanjutnya.
  • Ngeroras, artinya roras atau 12 hari, rangkaian upacara yang biasanya dilakukan setelah 12 hari dari upacara pembakaran jenasah.
  • Meajar-ajar/nyegare gunung, Upacara ini dilakukan untuk menghadapkan sang atma ke Pura besar yang ada di Bali, seperti Besakih, lempuyang, Goa lawah.
  • Ngelinggihan, Ini adalah prosesi terakhir yaitu menempatkan roh almarhum di pura keluarga. Disinilah masyarakat hindu di Bali akan mendoakan supaya leluhur selalu menunjukan jalan yang terbaik untuk keluarga.

Pengaruh perkembangan jaman dalam pelaksanaan Tradisi Upacara Ngaben di Bali.

Seiring perkembangan jaman, akhir-akhir ini prosesi tradisi Ngaben di Bali, sudah banyak yang dibuat lebih praktis, tanpa mengurangi dari makna di dalamnya. Dimana jaman dahulu, kegiatan ini selalu dilakukan di masing-masing desa adat dan melibatkan semua warganya. Seperti kita ketahui jaman sekarang kebanyakan masyarakat yang atas alasan pekerjaan pergi merantau ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak penghasilan, dan melihat dari rangkaian acara tradisi ini menghabiskan waktu yang lumayan lama, maka saat ini di Bali bermunculan Krematorium/yayasan yang mampu meng-organise kegiatan ini dengan cara yang lebih praktis. Artinya jika ada salah satu keluarga kita yang meninggal, kita hanya perlu menyiapkan uang saja dan prosesi Ngaben dilakukan sepenuhnya oleh pihak yayasan. keluarga yang ditinggalkan hanya mengukti prosesinya saja, tanpa ikut mempersiapkan kebutuhan sesajen dan perlengkapan lainnya. Disamping acaranya lebih praktis biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih murah, ketika kita melakukan Ngaben di krematorium.

|| Mau tau tentang Upacara Potong Gigi di Bali? click disini!

Video prosesi Ngaben di Bali

Berikut kami bagikan video prosesi simple dari tradisi upacara Ngaben di Bali

Kesimpulan

Masyarakat hindu Bali, tidak memberlakukan “aturan” yang baku dalam pelaksanaan kegiatan tradisi keagamaan. Masing-masing wilayah desa adat yang kami sebut sebagai Desa Kala Patra, mempunyai ketentuan dan aturan tersendiri, walau secara umum kegiatanya hampir sama. Dalam hal ini perkembangan jaman dan teknologi sangat berperan didalamnya. Masalah keyakinan semua kembali pada diri kita sendiri, karena apa yang kita yakini belum tentu diyakini oleh orang lain.